Jauh sebelum gitar modern menggema di panggung-panggung dunia, Indonesia sudah mengenal alat musik berdawai. Di relief Candi Borobudur (abad ke 8) dan Candi Prambanan (abad ke 9), instrumen petik terpahat di batu dan menjadi saksi bahwa dawai sudah lama hidup di tanah ini. Musik adalah bagian dari peradaban kita sejak berabad-abad lalu.
Hari ini, sejarah itu bertemu dengan kenyataan. Indonesia menjadi salah satu pusat produksi gitar terbesar di dunia. Pabrik-pabrik besar seperti PT. Samick, PT. Cort dan lainnya melahirkan gitar-gitar Ibanez, PRS, Epiphone, Fender / Squire, Washburn, Kramer, Jackson, Schecter, Gretsch, Strandberg yang tersebar dan dimainkan oleh gitaris di berbagai benua.

Itu bukan kebetulan. Hutan tropis kita menghadirkan kayu-kayu terbaik, dan tangan-tangan terampil putra-putri bangsa mengolahnya dengan presisi. Indonesia punya bahan terbaik dan manusia yang mumpuni.  
Namun ada satu ruang yang masih kosong. Indonesia belum memiliki brand gitar asli yang kuat. Kita dikenal sebagai tempat gitar dibuat, tetapi belum sebagai pemilik nama yang dibawa ke panggung dunia.
HOMER Indonesia lahir dari kegelisahan itu. Kami percaya bahwa bangsa yang mampu membuat gitar terbaik juga berhak memiliki brand gitarnya sendiri. Dengan desain orisinal, material pilihan, dan kualitas yang konsisten di setiap gitar, HOMER dibuat di Indonesia untuk menjadi brand gitar bertaraf internasional.
Karena dawai sudah lama bergetar di tanah ini, sekarang saatnya Indonesia memiliki suaranya sendiri.
HOMER. Dari Indonesia, untuk dunia.